top of page
Search

Goes to Maestro Aerli Rasinah


Di tempat kediaman Aerli Rasinah, Maestro Topeng Cirebon gaya Indramayu
Di tempat kediaman Aerli Rasinah, Maestro Topeng Cirebon gaya Indramayu

Hari pertama pada tanggal 14 Februari 2026 penelusuran jejak maestro Tari Topeng Cirebon dimulai di wilayah pesisir timur, Indramayu, sebuah ruang budaya tempat gaya Tari Topeng berkembang dengan watak khas—lebih membumi, dekat dengan denyut hidup masyarakat agraris dan pesisir. Di sinilah Ratu Dini Andhiyani Seminingrat memulai langkah awal program revitalisasi yang ia rancang: dengan mendatangi langsung para penjaga tradisi, mendengar dari tubuh yang hidup, bukan dari arsip semata.

Pertemuan pertama berlangsung bersama Aerli Rasinah, maestro perempuan Tari Topeng gaya Indramayu yang namanya telah lama dikenal di kalangan pelaku seni tradisi. Rumah sederhana tempat Rasinah menerima tamu bukan hanya ruang domestik, melainkan juga ruang ingatan—tempat nilai, cerita, dan laku hidup diwariskan lintas generasi. Di sana, percakapan mengalir perlahan, tanpa tergesa, sebagaimana cara Tari Topeng itu sendiri diturunkan.

Aerli Rasinah menuturkan bahwa dirinya telah bersentuhan dengan dunia kesenian sejak usia lima tahun. Namun, proses itu jauh dari kesan instan. Ia tidak serta-merta diajari gerak, apalagi dipersiapkan untuk tampil. “Topeng itu tidak langsung diajarkan. Harus dicari sendiri. Dari situ anak belajar sabar,” ujarnya, mengenang masa kecilnya bersama sang nenek, Mimi Rasina—sosok guru pertama yang memperkenalkannya pada dunia Topeng melalui pengamatan, penghayatan, dan ketekunan.

Bagi Rasinah, cara belajar seperti itu bukan sekadar metode, melainkan pendidikan karakter yang paling mendasar. Anak tidak ditempatkan sebagai penerima ilmu yang pasif, tetapi sebagai subjek yang tumbuh melalui proses pencarian. Kesabaran, menurutnya, adalah inti dari Tari Topeng. Bukan seberapa cepat seorang anak mampu menghafal ragam gerak, melainkan sejauh mana ia mampu mengendalikan diri, menghormati guru, dan memahami waktu.

Pandangan ini menegaskan bahwa Tari Topeng sejak awal tidak pernah dimaksudkan sebagai seni pertunjukan semata. “Dari dulu tari itu bukan untuk panggung saja, tapi untuk membentuk manusia. Supaya tahu tata krama, tahu batas, dan tahu rasa,” tutur Rasinah dengan nada tenang namun tegas. Di balik kedok dan irama gamelan, tersimpan pelajaran tentang bagaimana manusia menempatkan diri di hadapan sesama, alam, dan Yang Maha Kuasa.

Dalam tradisi Indramayu, Topeng tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Rasinah menjelaskan bahwa banyak ragam gerak yang bersumber langsung dari aktivitas domestik dan kerja masyarakat. “Di Samba ada gerakan nyuci, di Rumyang ada gerakan ngutuk. Itu semua diambil dari kehidupan kita sehari-hari,” katanya. Gerak tidak lahir dari ruang abstrak, melainkan dari pengalaman tubuh yang konkret—dari mencuci, menumbuk, berjalan, hingga bekerja di ladang.

Kedekatan dengan kehidupan inilah yang membuat Tari Topeng memiliki daya pedagogis yang kuat. Gerak-gerak tersebut mudah dikenali, bahkan oleh anak-anak. Mereka tidak merasa sedang belajar sesuatu yang asing, melainkan diajak membaca ulang keseharian mereka sendiri dalam bentuk estetis. Tubuh menjadi media pengetahuan, dan tari menjadi bahasa yang akrab.

Ketika berbicara tentang anak-anak, Rasinah menekankan pentingnya pendekatan yang lembut dan menyenangkan. Ia menolak cara belajar yang memaksa atau terlalu cepat. “Kalau ke anak-anak itu harus dirangkul dulu. Dibuat senang. Jangan langsung yang susah,” ujarnya. Dalam praktiknya, gerak dipadatkan, cerita dipermudah, dan suasana latihan dibuat cair—namun tetap dalam koridor pakem.

Menurut Rasinah, revitalisasi bukan berarti bebas mengubah. Ia justru menegaskan batas yang jelas antara penyesuaian dan pelanggaran. “Revitalisasi boleh, tapi jangan sampai menghilangkan keaslian dan penghormatan pada leluhur,” tegasnya. Pakem adalah penopang utama; ia boleh disederhanakan untuk kebutuhan edukasi, tetapi tidak boleh dihilangkan atau dipelintir demi kepentingan sesaat.

Sikap ini mencerminkan etika besar dalam tradisi Topeng: kesetiaan pada asal-usul. Guru bukan hanya pengajar teknik, tetapi penjaga nilai. Murid bukan sekadar penampil, melainkan penerus tanggung jawab budaya. Hubungan guru–murid dalam Topeng, sebagaimana disampaikan Rasinah, adalah relasi etis yang menuntut kesungguhan, bukan transaksi keterampilan.

Bagi Ratu Dini, pertemuan dengan Aerli Rasinah menjadi penguat landasan konseptual program yang tengah ia bangun. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana Tari Topeng hidup sebagai sistem pendidikan kultural yang utuh—mengajarkan disiplin tanpa kekerasan, etika tanpa ceramah, dan nilai tanpa slogan. Semua hadir melalui tubuh, waktu, dan proses.

Dalam konteks pendidikan anak sekolah dasar, pengalaman ini sangat relevan. Ratu Dini melihat bahwa Tari Topeng, khususnya gaya Indramayu, memiliki potensi besar untuk menjadi media pembelajaran tematik yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus. Anak-anak tidak hanya belajar bergerak, tetapi juga belajar menunggu, mendengar, menghormati, dan merasakan.

Pertemuan hari pertama ini juga membuka kesadaran bahwa pendidikan budaya tidak bisa disederhanakan menjadi produk instan. Ia menuntut kehadiran, kesabaran, dan dialog lintas generasi. Apa yang diwariskan Rasinah bukan hanya pengetahuan tentang tari, tetapi sikap hidup—tentang bagaimana manusia tumbuh selaras dengan ritme alam dan masyarakatnya.

Di tengah dunia yang serba cepat, nilai-nilai ini menjadi semakin penting. Ketika anak-anak dibanjiri oleh visual instan dan budaya serba singkat, Tari Topeng menawarkan kebalikan: proses panjang, pengulangan, dan kedalaman. Sebuah ruang belajar yang menumbuhkan ketahanan batin, bukan sekadar keterampilan tampil.

Hari pertama perjalanan ini pun ditutup dengan kesan mendalam. Dari Indramayu, Ratu Dini membawa lebih dari sekadar catatan wawancara. Ia membawa keyakinan bahwa Tari Topeng Cirebon—dalam segala ragam gayanya—adalah warisan hidup yang mampu menjawab tantangan pendidikan hari ini. Sebuah tradisi yang, jika dirawat dengan sabar dan bijak, mampu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak usia dini, tanpa kehilangan akarnya.

Langkah selanjutnya akan membawa perjalanan ini ke wilayah lain, bertemu maestro-maestro dengan gaya dan pengalaman berbeda. Namun fondasinya telah diletakkan di Indramayu: bahwa revitalisasi sejati selalu berangkat dari penghormatan pada proses, pada manusia, dan pada waktu.

 
 
 

Comments


bottom of page